Artikel

Hukum Lupa atau Ragu Baca Tasbih dalam Shalat Tasbih

Hukum Lupa atau Ragu Baca Tasbih dalam Shalat TasbihDi dalam sholat Tasbih ada tempat-tempat di mana kita diharuskan untuk membaca tasbih dengan jumlah tertentu. Seperti kita diharuskan untuk membaca tasbih pada saat sebelum ruku’, di waktu ruku’, saat itidal, di saat sujud dan seterusnya.Hanya saja terkadang kita lupa membaca tasbih itu di tempat-tempat yang ditentukan. Atau bisa jadi kita juga lupa atau ragu dengan jumlah tasbih yang telah kita baca.Pembaca yang budiman, lupa itu sangat manusiawi. Demikian halnya dengan ragu. Karena keduanya kadang hinggap begitu saja di luar dugaan dan datangnya tak dikehendaki. Dalam konteks sembahyang tasbih, ulama memberikan arahan secara teknis bagi mereka yang lupa atau ragu dalam membaca tasbih.Keterangan teknis in bisa kita temukan dalam Hasyiyatul Bujairimi alal Khatib atau Tuhfatul Habib ala Syarhil Khatib karya Syekh Sulaiman Al-Bujairimi. Keterangannya kami kutip sebagai berikut.وإذا شك في عدد مرات التسبيح أخذ باليقين ، ويقدم ذكر كل ركن على تسبيحه ق ل . وقوله لم يسبح في السجود أي في السجود السهو أي تسبيح صلاة التسبيح .

Kisah Seorang Wali Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW

Kisah Seorang Wali Peringati Maulid Nabi Muhammad SAWSyahdan, suatu masa hidup seorang muda pada zaman Amirul Mukminin Harun Ar-Rasyid berkuasa. Pemuda ini berperangai buruk. Banyak perilakunya tidak menarik simpati penduduk Bashrah. Ia bukanlah pemuda idaman masyarakat. Penduduk kota tersebut kehilangan empati terhadapnya.Karena perilakunya yang tidak terpuji dan banyaknya maksiat terang-terangan itu, ia kehilangan wibawa di tengah masyarakat. Penduduk memandang rendah kepadanya. Tak satupun anggota masyarakat yang peduli kepadanya.Namun demikian seorang muda ini selalu tampil lebih baik saat bulan Rabi‘ul Awal tiba. Ia berdandan perlente. Ia mencuci pakaian yang dikenakannya. Ia mengenakan wangi-wangian pada pakaiannya. Rambutnya disisir dengan rapi. Ia bercermin untuk memastikan penampilannya yang terbaik.Apakah yang dilakukan pemuda ini selanjutnya? Di luar dugaan masyarakat ia mengadakan jamuan kenduri. Di tengah jamuan itu ia meminta sejumlah penduduk untuk membacakan maulid atau sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW.Perjamuan kenduri semacam ini ia lakukan sepanjang usianya setiap kali bulan Rabi‘ul Awal tiba.

Pertautan Hati Dua Kekasih Allah

Pertautan Hati Dua Kekasih AllahDikisahkan, terdapat seorang ulama bernama Habib Abdul Qadir bin Quthban Assegaf, seorang alim yang sangat gemar bersilaturrahim. Kegemarannya bersilaturahim bukan hanya terbatas di wilayah Hadramaut, Yaman saja. Tapi juga sampai mancanegara, bahkan ke pulau Jawa Indonesia.Hingga suatu saat, ia berkesempatan silaturahim ke daerah Probolinggo, tepatnya di pesantren yang kala itu masih diasuh oleh KH Mohammad Hasan Sepuh Genggong.Kedatangannya disambut dengan ramah oleh tuan rumah. Lalu terjadilah percakapan antara keduanya. Hingga pada akhirnya Kiai Hasan menanyakan tentang kabar seorang ulama dari Yaman.“Habib, bagaimana kabarnya Habib Ali Habsyi Seiwun (muallif simtuddurar)?” tanya Kiai Hasan.Agak terkejut, Habib Abdul Qadir, mendengar pertanyaan tersebut.

Fadhilah SEDEKAH

Kenapa Seorang Mayit Memilih “BERSEDEKAH” Jika Bisa Kembali Hidup ke Dunia?*Sebagaimana firman Allah: رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ*”Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda [kematian]ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah…”* {QS. Al Munafiqun: 10}Kenapa dia tdk mengatakan, “Maka aku dapat melaksanakan umroh” atau “Maka aku dapat melakukan sholat atau puasa” dll?. Berkata para ulama, *Tidaklah seorang mayit menyebutkan “sedekah” kecuali karena dia melihat besarnya pahala dan imbas baiknya setelah dia meninggal…*Maka, perbanyaklah bersedekah, karena seorang mukmin akan berada dibawah naungan sedekahnnya…Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, *“Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya, hingga diputuskan perkara-perkara di antara manusia.”* (HR.

Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah

 Dalam kitab An-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi diceritakan, suatu kali Abu Yusuf Ya’qub bin Yusuf bercerita tentang salah seorang sahabatnya yang unik. Ia orang yang wara’ dan takwa meski orang-orang mengenal karibnya itu sebagai orang fasik dan pendosa. Sudah dua puluh tahun Abu Yusuf melakukan tawaf di sekitar Ka’bah bersamanya. Tak seperti Abu Yusuf yang berpuasa terus menerus (dawâm), sahabatnya ini sehari puasa sehari berbuka. Memasuki 10 hari bulan Dzulhijjah, sahabat Abu Yusuf ini menunaikan puasa secara sempurna kendati ia berada di padang sahara yang tandus. Bersama Abu Yusuf, ia masuk kota Thurthus dan menetap di sana untuk beberapa lama. Di tempat gersang inilah, persisnya di sebuah kawasan reruntuhan bangunan, ia wafat tanpa seorang pun yang tahu kecuali Abu Yusuf. Abu Yusuf pun keluar mencari kain kafan dan alangkah kagetnya tatkala dirinya kembali menyaksikan kerumunan orang berkunjung, mengafani, sekaligus menyalati jenazah sahabatnya tersebut di tempat yang semula tak berpenghuni.

Para Pembawa Harta hendaknya Bepergian di Bawah Perlindungan

Bila seseorang hendak benar-benar meningkatkan kehidupan rohaninya dan ikhlas dengan niatnya itu, niat itu pasti dikabulkan olah Tuhannya. Ini menunjukkan pada kita betapa Tuhan menanggapi niat baik hamba-Nya.  Ketika kita memohon petunjuk-Nya, Dia akan mengirimkan salah seorang hamba yang paling dicintainya untuk membantu kita. Begitu banyak hadiah yang berharga yang menanti kita dalam kehidupan rohaniah kita, namun terlarang bagi siapa pun untuk menerimanya, kecuali mereka yang mampu menjaganya saja. Tak satu pun di dunia ini yang sepadan dengan harta yang menanti kita.  Namun kunci menuju ke sana dijaga oleh tangan–tangan penjaga.

Halaman

mdti - This is a contributing Drupal Theme
Design by WeebPal.