Sulitnya menempuh Jalan Ruhaniyyah (Thariqah)

Avatar humas tasbih

Hendaknya sepenuhnya kalian sadari bahwa menempuh Jalan Ruhaniyyah tidaklah memberi kalian keuntungan duniawi [materi] sedikitpun. Kalian tidak dibayar sedikitpun untuk ini. Tak seorangpun akan memberi kalian pangkat jabatan. Tak ada mahkota yang menanti kalian disana. Tak ada yang akan “memahkotai” kalian. Dan kalian tak bakal jadi presiden atau raja karenanya. Hanya satu yang diberikan ke tangan kalian, dan itu adalah tali kekang atas ego kalian.

Nyatanya, adakah suatu pencapaian yang lebih besar dari mampu menahankan apa-apa yang tak menyenangkan ego kalian dan melakukan yang berlawanan dengan hasrat ego kalian? Apa-apa yang teramat sangat dicintai [diinginkan] seseorang maka hal itulah yang merupakan hasrat egonya. Karena itu, untuk menolak apa-apa yang dihasratkan ego merupakan sesuatu yang sangatlah tidak mudah. Kita hendaknya menolak apa-apa yang dicintai ego kita dan mengosongkan hati [kalbu] kita dari segala sesuatu yang diminta ego kita. Hanya dengan berlaku demikianlah maka kita akan mampu mempelajari adab yang baik yang Syaikh kita menginginkan kita mendapatkannya.

Jangan berharap sedikitpun bahwa dergah [zawiyah] syaikh kalian akan menjadi tempat yang menyenangkan bagi ego kalian. Ketika kalian bertekad bulat hendak menjalani pelatihan ruhani dari seorang syaikh, saat itu juga hendaknya kalian bertekad bulat untuk menjalani segala sesuatu yang tidak menyenangkan ego kalian. Sebelum pelatihan ruhaniyyah ini membuat kalian mencapai maqam ruhaniyyah apapun, kalian pertama-tama harus mempelajari bagaimana berurusan dengan ego kalian dan bagaimana mengendalikan hasrat-hasratnya. Melatih ego terkadang merupakan suatu bentuk “hukuman” yang nyata [karena berat dan pedihnya derita yang kita rasakan ketika melatih ego].

Dalam menempuh Jalan Ruhaniyyah, tak ada tempat sedikitpun untuk kemewahan dan kenyamanan. Berikut ini adalah kondisi-kondisi yang ada selama menempuh Jalan Ruhaniyyah:
* Tertidur ketika masih berada diatas sajadah dan terbangun juga masih diatas sajadah [hal ini bukan sesuatu yang asing dan kerap kali dialami oleh yang sedang melaksanakan awrad –misalnnya ketika sedang mengikuti suluk- secara intens, dimana tertidur dan terbangun masih diatas sajadah yang sama ketika sedang berdzikir].
* Bersyukur atas apapun yang didapatkan dan tidak menyesali apapun yang tidak didapatkan.
* Menjauhi segala bentuk kenikmatan yang berlebihan dan menahankan apapun yang tidak menyenangkan ego kalian.
* Lebih suka diam daripada berbicara, karena berbicara adalah perak dan diam adalah emas.
* Tidak berlebihan merasa senang atas apa-apa yang kalian dapatkan dan tidak sedih atas apa-apa yang lepas dari genggaman kalian.
* Hanyalah memperhatikan apa-apa yang Tuhan kalian menghendaki kalian melakukannya.
* Memikul setiap beban kesulitan yang sesungguhnya bukan tanggung jawab kalian untuk memikulnya.
* Tak pernah mengeluh sedikitpun.
* Tetap teguh memegang kebenaran meskipun hal itu merugikanmu [secara materi duniawi].
* Tak pernah melenceng dari jalan kebenaran meskipun hal itu tampaknya akan merugikanmu.
* Selalu bersabar.

Seperti yang kalian lihat, Jalan Ruhaniyyah sangatlah tidak menarik, karena terdiri dari hal-hal yang dibenci ego kalian. Yang lebih berat lagi adalah dalam setiap langkah kedepan yang kalian ambil maka ujian yang kalian hadapi menjadi lebih sukar lagi.

Bagi ego kalian, Jalan Ruhaniyyah adalah sama menyakitkannya dengan dibakar api, tapi “api” inilah yang akan membebaskan kalian dari sifat-sifat alamiah kalian yang kasar dan mentah. Tak seorangpun yang mengatakan bahwa jalan menuju kesempurnaan adalah jalan yang mudah untuk ditempuh. Melatih ego kalian merupakan jalan menuju kesempurnaan. Kalian tak akan berhasil dalam menempuh jalan ini kalau tanpa disertai usaha keras dan sungguh-sungguh. Jika kalian hendak mencapai tujuan akhir yang setinggi mungkin dan jika kalian ingin mendapatkan kendali penuh atas ego kalian, maka kalian haruslah siap menghadapi serangkaian ujian dan penderitaan. Itulah sebabnya mengapa hanya sedikit orang yang telah menguasai Jalan ini.

Diterjemahkan dari kutipan buku “Holy Legacy”, Sheikh Bahauddin Adil, p.124-126.

Categories: 
mdti - This is a contributing Drupal Theme
Design by WeebPal.